HARMOKO: Hari Omong Kosong


HARMOKO: Hari Omong Kosong
Harmoko merupakan pria yang menjabat sebagai Menteri Penerangan, harmoko hampir setiap hari muncul di koran maupun televisi, untuk menyorot dirinya baik sebagai Menteri penerangan maupun ketua umum Golkar. Harmoko menjadi Menteri Penerangan tiga periode. Antara tahun 1983-1997 di tangannyalah surat izin usaha penerbitan pers  diterbitakan atau dibatalkan. Inilah yang menetukan hidup dan matinya media masa kala itu. tercatat setidaknya ada 13 media masa yang dicabut surat izinnya pada periode 14 tahun pemerintahan Harmoko di departemen Penerangan. Seusai pemilu 1992 Soeharto menunjuk Harmoko sabagai orang sipil pertama   yg menjadi ketua umum Golkar. Aksi panggungnya menyumbang peningkatan suara Golkar dari 60%  pemilu tahun 1992 jadi 75% tahun 1997. Dari hasil keliling Indonesia ia meyakinkan Soeharto bahwa rakyat Indonesia masih menginginkannya sebagai Presiden Republik Indonesia untuk periode ke-7.
Meski loyalitas penjaga pers rezim orde baru tak diragukan pada pertengahan 1997, Soeharto tiba-tiba mengakhiri 3 periode kekuasaan Harmoko di Departemen Penerangan, ia menduduki jabatan sebagai menteri negara urusan khusus sebuah kementerian baru yang tak jelas benar apa tugas dan fungsinya, tak lama kemudian di akhir 1997 Soeharto menunjuk bekas pembantunya yang loyal itu sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat yang menjadikannya setara dengan Presiden sebagai lembaga tinggi negara, setidaknya secara teori. Tak ada yg menyangka bahwa palu sidang yg patah di tangan Harmoko saat penutupan paripurna ke 5 Maret 1998 menjadi lebih buruk dua bulan berikutnya dan pada suatu titik di tikungan sejarah inilah, Harmoko membuat keputusan dan memilih jalannya sendiri. Soeharto tak punya pilihan, rakyat mengamuk, jalanan rusuh, tentara terbelah, 14 menteri mundur. Bersama runtuhnya rezim orde baru, Harmoko yg pernah bersekolah dalang di Solo menghilang dari pandangan publik hingga suatu hari Harmoko mengizinkan kamera mengintip apa yang dilakukannya ini.
Di rumahnya, di kawasan Kuningan Jakarta Selatan bekas ketua PWI di era 80an ini ia menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya. Harmoko sering disebut sebagai Menteri petunjuk Presiden. 21 Juni 1994 tiga media masa (tempo, detik, editor) dibrangus tanpa alasan yang jelas, padahal ketika baru dilantik  sebagai Menteri Penerangan pada 1983 di depan koleganya sesama wartawan Harmoko pernah berujar bahwa dirinya tidak akan membredel media masa. Namun atas dibrangusnya tiga media tersebut Harmoko menyatakan bahwa keputusan ini bukan ditangannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ULASAN NEO FOOT DREAM (ADVANCE)