RESENSI FILM SPOTLIGHT


Nama              : Resita Dina Artiningtyas
NIM                : A310160002
Kelas               : 7A

RESENSI FILM SPOTLIGHT
Judul : Spotlight
Tahun Rilis : 2015
Genre: Drama
Sutradara: Tom Mc Carty

Resensi Film
Film yang berjudul “Spotlight” menceritakan sebuah kisah sekelompok jurnalistik yang bernama “Spotlite”. Kelompok Spotlite terbentuk dari sebuah perusahaan yang namanya The Boston Globe. Kelompok ini memprioritaskan diri dalam menginvestigasi kasus-kasus besar dalam proses yang memakan waktu sangat lama. Anggota kelompok jurnalistik ini yaitu sebagai editor Walter Robinson (Michael Keaton) atau sapaan akrabnya Robby. Kemudian tiga reporter yakni Michael Rezendez (Mark Ruffalo), Sacha Preiffer (Rachel Mc Adams), Matt Carroll (Brian d’Arcy James), dan Ben Bradlee Jr (John Slattery) sebagai deputy editor. Film ini mengisahkan terungkapnya kasus pencabulan yang dilakukan oleh Pastur yang sudah bertahun-tahun lamanya dan sudah banyak memakan korban. Pada film ini menunjukkan bagaimana kelompok redaksi “Spotlight” berusaha mengumpulkan bukti atas kasus pencabulan tersebut. Bukti yang dikumpulkan berupa dokumen kasus, wawancara terhadap korban dan wawancara bersama pengacara yang menangani kasus tersebut.
            Film Spotlight berawal dari ilustrasi peristiwa penangkapan seorang pastur yang ditemukan dalam kantor polisi Boston Massachusset atas kasus pencabulan pada tahun 1976. Namun, karena dianggap berpengaruh besar pada kehidupan masyarakat, akhirnya pastur tersebut dibebaskan. setelah Stewart menggantikan Marty Baron sebagai editor pada kantor harian Boston Glob, ia berpendapat agar mengungkap kasus yang dilakukan oleh pastur dan pihak gereja yang telah bertahun-tahun lamanya dan tidak penrah terungkap sebelumnya. Namun keputusan tersebut perlu dipertimbangkan karena dianggap menuntut pihak gereja. Keputusan itu juga didasari atas pengaruh gereja kepada masyarakat. Pada akhirnya Baron menawarkan peliputan kasus tersebut pada kelompok Spotlite dan kelompok tersebut menerimanya.
Kelompok Spotlite mengawali investigasi besar tersebut mulai dari pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang pendeta yang dikenal dengan nama John Georghan. Kelompok Spotlight berusaha menyelidiki bukti dengan mewawancarai korban dan pengacara, dokumen-dikumen pemberitaan serta dokumen hukum terkait kasus itu, dan bertemu komunitas yang sudah melakukan kajian atas kasus tersebut secara mendetail. Bahkan wawancara tersebut dilakukan oleh pihak cardinal dan para admisi yang telah meneliti kasus tersebut. Namun, yang menjadi permasalahan yakni Kardinal Law dari Uskup Besra Boston diduga tahu hal tersebut namun ia memilih diam.
Dimulai dari satu nama pendeta, fakta-fakta baru kemudian diperoleh.dalam tahap awal, ada tiga belas nama yang berhasil ditemukan. Seorang pendeta yang kini menjadi psychotheraphist, Richard Sipe (diumumkan oleh Richard Jenkins, karena kemunculannya hanya melalui telepon), menambah informasi kepada kelompok Spotlight melalui  Michael Rezendez. Informasi baru yang mengejutkan bahwa tersangka semakin membengkak yakni mencapai angka sembilan puluh. Ketika pastur tersebut terbebaskan dari hukuman usai melakukan pencabulan mereka dihentikan atau dipindah tugaskan.
Kelebihan: film Spotlight memiliki keunggulan bahwa cerita tersebut menggambarkan bagaimana kebebasan pers dalam pemberitaan. Film spotlight mendeskripsikan bahwa pemberitaan jurnalistik tidak memandang bulu, apakah ia tokoh penting atau tidak. Jika ada sesuatu yang perlu diketahui diketahui publik maka seharusnya media massa tidak menutupinya. Film ini juga menggambarkan berita yang berkualitas tidak hanya didapat dari isu semata, namun juga dikuatkan dengan bukti-bukti yang mendukung.
Kekurangan: film spotlight memiliki kekurangan  yakni jalan cerita yang terpenggal-penggal. Meski setiap settingnya memiliki benang merah, penonton harus ekstra fokus agar mendapatkan hjalan ceritanya yang benar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ULASAN NEO FOOT DREAM (ADVANCE)